Regards, Me

Setetes air keluar dari mata Nathan. Beberapa menit berlalu, air mata itu tidak berhenti. Pipinya basah dihujani air mata. Ada genangan air di kacamatanya yang berasal dari tetesan air mata.

Bouquet bunga yang digenggamnya dari tadi, akhirnya ia sematkan diatas tanah yang berlojak didepannya, tepatnya disebuah batu yang menancap di pangkal tanah yang berlojak tersebut.

Di atas batu tersebut ada tulisan “Rest in peace Anne Marie 07.05.1997 – 03.08.2015″ yang membuat hati Nathan hancur berkeping-keping.

Kenangan yang indah susah untuk dilupakan. Bahkan mengingatnya menjadi ‘kenangan’ saja sudah cukup membuat Nathan merengut dan tidak mau keluar kamar.

Sudah lima hari ini, ia bolak-balik ke pemakaman yang sama, menyematkan bunga yang berbeda-beda, berfikir bahwa Anna akan menyukainya.

Ia meraba kantung jaketnya dan mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat, lalu meletakkannya bersama bunga yang tadi ia sematkan.

Surat, katanya, surat

Dear, Anna.

Hari yang baik, bukan? Dari pagi, fajar terus menyebar sinarnya, kehangatannya.
Aku ingin mencoba menjadi fajar. Tapi, aku tidak bisa. Setiap mendengar namamu, air mataku mengalir melewati pipiku. Omong-omong, aku rindu pipimu, rindu mencubitnya. Aku rindu suaramu. Aku rindu bagaimana caramu memarahiku. Aku rindu dengan senyummu dan gerutuanmu.
Aku rindu kamu.

Tapi sekarang, aku akan menyerahkan kerinduanku kepada semesta. Mencoba melewati hari-hariku yang sudah menjadi sangat biasa ini. Tapi jangan pernah pikir aku akan melupakanmu.

Waktu itu, saat aku dikabari oleh ibumu, aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya hatiku yang menangis dan itu sakit sekali.

Sepertinya ibuku prihatin melihatku kesini setiap hari. Ia menitip salam buatmu.

Anna, jika kamu sudah sampai di kerajaan itu, sampaikan salamku kepada-Nya. Jika sudah, apakah kamu bertemu dengan Ayahku? Apa kalian tertawa bersama? Kalau iya, berarti kita memang baik adanya.

Sepertinya, sampai disini dulu, Anna. Besok, aku akan kembali lagi menemuimu dan kita akan berbincang bersama. Terimakasih, love.

Regards,

Nathan Matthew Skye

Nathan mengusap pipinya dan bangkit berdiri. Ia menatap makam itu sebentar lalu pergi, meninggalkan pemakaman.

Dalam hatinya, seperti ada seorang yang berkata “Aku cinta padamu,” lalu diakhiri dengan “Regards, Me

FIN

Sebenernya cerita ini gue adaptasi dari cerita kakak gue sendiri. Waktu mengandung bayinya, Ia sudah divonis ngga bakal bertahan lama. Tepat tanggal 13 April 2016, bayinya lahir. Hebatnya, ia masih bisa bernafas tanpa oksigen selama dua jam. Kakak gue cuma bisa meluk dia, ngomong bareng dia, sampe akhirnya bayinya udah berhenti nafas. Tubuhnya membiru. Dingin.

Sampe sekarang juga kakak gua masih Still In Grief. Iyalah, siapa coba yang ngga sedih saat anaknya dipanggul yang mahakuasa, padahal baru ketemu beberapa jam doang?

Namanya Ocean, anak yang baik, meskipun pernah menyakiti ibunya hingga setengah mati.

Ocean, if you know i write this, say Hello to God, aye? 🙂

Makasih ya yang udah mau baca. Please leave your comment biar gue bisa jadi lebih baik lagi!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s